Mendampingi Remaja Menemukan Arah
Remaja membutuhkan ruang untuk mengenali diri, mengeksplorasi pilihan, dan membangun kepercayaan terhadap kemampuannya.
Masa remaja adalah periode ketika seseorang mulai banyak bertanya tentang dirinya sendiri.
"Saya sebenarnya seperti apa?"
"Apa yang saya sukai?"
"Saya punya kemampuan di bidang apa?"
"Saya ingin menjadi seperti apa di masa depan?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan. Remaja sedang belajar mengenali identitas, membangun hubungan, mengambil keputusan, dan secara perlahan mempersiapkan diri menuju kehidupan yang lebih mandiri.
WHO menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode perkembangan yang penting, ketika kemampuan kognitif, emosional, dan sosial berkembang dengan cepat. Pada periode ini, remaja juga mulai mengembangkan kemampuan mengelola emosi, hubungan, serta berbagai keterampilan yang akan dibutuhkan dalam kehidupan dewasa.
Karena itu, mendampingi remaja menemukan arah bukan berarti menentukan seluruh jalan hidup mereka.
Pendampingan berarti membantu mereka belajar menemukan jalannya sendiri.
Remaja Tidak Harus Sudah Mengetahui Semuanya
Ada anggapan bahwa seorang remaja seharusnya sudah mengetahui ingin menjadi apa ketika dewasa.
Padahal, tidak semua remaja memiliki jawaban yang jelas.
Ada yang sudah memiliki cita-cita sejak kecil.
Ada yang masih mencoba berbagai hal.
Ada pula yang merasa bingung karena memiliki terlalu banyak pilihan.
Kebingungan tidak selalu berarti kurang motivasi. Dalam banyak situasi, kebingungan justru merupakan bagian dari proses eksplorasi.
Remaja membutuhkan kesempatan untuk mengenali dirinya, mencoba berbagai pengalaman, memperoleh informasi, dan kemudian melakukan refleksi terhadap apa yang sesuai dengan dirinya.
UNICEF menempatkan kesadaran diri, pemahaman terhadap kekuatan dan kelemahan, kemampuan mengambil keputusan, serta penetapan tujuan sebagai bagian penting dari kompetensi yang perlu dikembangkan pada masa remaja.
Mulai dari Mengenal Diri
Sebelum bertanya kepada remaja:
"Kamu mau jadi apa?"
mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar:
"Kamu sudah mengenal dirimu sendiri?"
Remaja dapat diajak mengeksplorasi:
• hal-hal yang mereka sukai;
• aktivitas yang membuat mereka bersemangat;
• kemampuan yang mereka miliki;
• hal-hal yang ingin mereka pelajari;
• nilai-nilai yang mereka anggap penting;
• lingkungan seperti apa yang membuat mereka berkembang;
• tantangan yang masih ingin mereka tingkatkan.
Tidak semua hal tersebut harus langsung menghasilkan pilihan karier.
Tujuannya adalah membantu remaja membangun kesadaran diri.
Semakin baik seseorang memahami dirinya, semakin mudah baginya mengevaluasi berbagai pilihan yang tersedia.
Berikan Ruang untuk Eksplorasi
Menemukan arah tidak hanya dilakukan melalui percakapan.
Remaja membutuhkan pengalaman.
Misalnya:
• mengikuti kegiatan sekolah;
• mencoba organisasi atau kepanitiaan;
• mengikuti kegiatan olahraga atau seni;
• melakukan proyek pribadi;
• mengikuti kegiatan sosial;
• mengenal berbagai profesi;
• berbicara dengan orang yang bekerja di bidang tertentu;
• mengikuti kegiatan pengembangan keterampilan;
• mencoba pengalaman belajar yang berbeda.
Dari pengalaman tersebut, remaja dapat menemukan:
"Ternyata saya suka melakukan ini."
atau:
"Saya kira saya cocok di bidang ini, tetapi setelah mencoba ternyata tidak."
Keduanya merupakan informasi yang berharga.
UNICEF menjelaskan bahwa keterampilan hidup membantu remaja menghadapi tantangan sehari-hari, membuat keputusan, memecahkan masalah, membangun hubungan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menetapkan tujuan yang realistis.
Jangan Terlalu Cepat Membandingkan
Salah satu hal yang dapat membuat remaja kehilangan kepercayaan diri adalah perbandingan yang terus-menerus.
"Lihat kakakmu."
"Temanmu sudah tahu mau kuliah di mana."
"Nilai kamu harus seperti dia."
Perbandingan mungkin dimaksudkan untuk memotivasi. Namun, bagi sebagian remaja, hal tersebut justru dapat menimbulkan perasaan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Setiap remaja memiliki kecepatan perkembangan, pengalaman, minat, kekuatan, dan tantangan yang berbeda.
Yang lebih penting bukan apakah seorang remaja sudah lebih cepat daripada orang lain, tetapi apakah ia terus berkembang dibandingkan dirinya sendiri.
Kepercayaan Diri Dibangun dari Pengalaman
Kepercayaan diri tidak selalu muncul karena seseorang sering diberi pujian.
Kepercayaan diri juga tumbuh ketika remaja memperoleh kesempatan untuk mencoba, menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mengalami keberhasilan.
Karena itu, orang dewasa dapat membantu dengan memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengambil tanggung jawab yang sesuai dengan usianya.
Misalnya:
"Menurut kamu, bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini?"
"Kalau kamu diberi dua pilihan, mana yang paling sesuai denganmu? Mengapa?"
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki situasi ini?"
Pertanyaan seperti ini membantu remaja berlatih berpikir dan mengambil keputusan, bukan hanya menunggu keputusan dari orang dewasa.
Mendampingi, Bukan Mengendalikan
Orang tua tentu memiliki pengalaman yang lebih banyak.
Namun, pengalaman orang tua tidak selalu berarti bahwa semua keputusan untuk remaja harus ditentukan oleh orang tua.
Remaja membutuhkan bimbingan sekaligus kesempatan untuk belajar mandiri.
WHO menekankan pentingnya kesempatan bagi anak dan remaja untuk mengembangkan kapasitas, otonomi, dan kemampuan mengambil keputusan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Peran orang dewasa dapat berubah dari:
"Saya yang menentukan."
menjadi:
"Mari kita pikirkan bersama."
Perubahan kecil dalam cara mendampingi ini dapat membantu remaja merasa bahwa dirinya dipercaya.
Ketika Remaja Belum Menemukan Arah
Bagaimana jika remaja masih belum tahu apa yang ingin dilakukan?
Tidak perlu langsung panik.
Alih-alih bertanya:
"Kamu mau jadi apa?"
berikan pertanyaan yang lebih mudah dijawab:
• "Apa kegiatan yang paling kamu nikmati akhir-akhir ini?"
• "Hal apa yang menurutmu cukup mudah kamu lakukan?"
• "Apa yang ingin kamu coba?"
• "Masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan?"
• "Orang seperti apa yang ingin kamu menjadi?"
• "Keterampilan apa yang ingin kamu miliki satu tahun dari sekarang?"
Arah kehidupan tidak selalu ditemukan dalam satu percakapan.
Sering kali, arah terbentuk melalui serangkaian pengalaman, pilihan, refleksi, dan penyesuaian.
Ketika Tekanan Masa Depan Mulai Terasa Berat
Ada kalanya pembicaraan tentang masa depan justru membuat remaja merasa tertekan.
Tekanan akademik, harapan keluarga, pertemanan, media sosial, dan kekhawatiran tentang masa depan dapat memengaruhi kesejahteraan emosional remaja.
WHO mencatat bahwa tekanan teman sebaya, eksplorasi identitas, hubungan keluarga, serta lingkungan sosial dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja. Lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas yang aman dan mendukung merupakan faktor penting dalam membantu remaja berkembang.
Karena itu, ketika remaja mengatakan:
"Aku nggak tahu mau jadi apa."
respons yang mungkin lebih membantu bukan:
"Kamu harus segera menentukan."
melainkan:
"Tidak apa-apa kalau kamu masih mencari. Kita bisa mulai dengan mengenali apa yang kamu sukai dan mencoba beberapa hal."
Jika Remaja Membutuhkan Pendampingan Lebih Lanjut
Sebagian remaja mungkin membutuhkan dukungan yang lebih terarah ketika kebingungan, tekanan, atau masalah yang mereka hadapi mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya, ketika remaja mengalami penurunan fungsi di sekolah, menarik diri secara terus-menerus, kehilangan minat terhadap aktivitas, mengalami kecemasan atau kesedihan yang menetap, atau merasa sangat tertekan terhadap masa depannya.
Dalam situasi seperti itu, orang tua dapat mempertimbangkan untuk melibatkan guru BK, konselor, psikolog, atau profesional lain yang sesuai.
Dukungan lebih awal dapat membantu remaja memahami apa yang sedang mereka alami dan mengembangkan strategi yang lebih sehat. WHO menekankan bahwa masa remaja merupakan kesempatan penting untuk mempromosikan kesehatan mental dan membangun keterampilan sosial-emosional.
Arah Tidak Selalu Berupa Sebuah Jawaban
Menemukan arah bukan berarti remaja harus segera memiliki jawaban tentang seluruh masa depannya.
Kadang-kadang, arah dimulai dari hal sederhana:
"Saya ingin mengenal diri saya lebih baik."
Kemudian:
"Saya ingin mencoba sesuatu yang baru."
Lalu:
"Saya tahu apa yang saya sukai."
Dan akhirnya:
"Saya mulai tahu langkah berikutnya."
Tugas orang dewasa bukan menggambar seluruh peta kehidupan remaja.
Tugas kita adalah membantu mereka memiliki kompas.
Kompas berupa kesadaran diri, nilai-nilai, keterampilan mengambil keputusan, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman.
Karena masa depan tidak harus ditemukan sekaligus.
Masa depan dapat dibangun, satu pilihan dan satu langkah pada satu waktu.
Referensi
- World Health Organization. (2025). Mental Health of Adolescents. WHO.
- World Health Organization. (2020). Adolescent Health and Development. WHO.
- World Health Organization. (2024). Improving the Health and Wellbeing of Children and Adolescents. WHO.
- UNICEF Indonesia. (2026). Membantu Remaja Berkembang: Panduan fasilitator untuk berkegiatan dengan remaja usia 15 hingga 19 tahun. UNICEF Indonesia.
- UNICEF Adolescent Kit for Expression and Innovation. (2025). Guide: Adolescents and Life Skills Education. UNICEF.
- UNICEF Adolescent Kit for Expression and Innovation. (2025). Guide: Ten Key Competencies for Adolescents. UNICEF.
- World Health Organization. (2020). Guidelines on Mental Health Promotive and Preventive Interventions for Adolescents: Helping Adolescents Thrive (HAT). WHO.